Rabu, 03 Maret 2021

Anak Penjual Koran

# Anak Penjual Koran#

Setiap pagi, di pinggir Jalan Vetran dekat simpang Jalan KHA Dahlan, terlihat pemandangaan seorang gadis kecil duduk di sebuah bangku. Dia sudah dusuk di tempat itu sejak pukul 6 pagi. Di depannya terletak sebuah meja kecil yang di atasnya sudah tersusun rapi koran-koran terbitan lokal.

Namanya Ani. Setiap hari, selesai sholat subuh, Ani bersama dengan papanya naik sepeda berangkat dari rumah menuju kota untuk mengambil koran Singgalang. Koran tersebut dikirim penerbit melalui bus angkutan bukit lawang dan diturunkan di depan sebuah toko buku A. Di sana sudah banyak loper koran yang juga menunggu koran harian lain. Ada harian Waspada dan Analisa.

Koran yang dikirim dibungkus sampul besar. Setelah koran didapat, selanjutnya koran dikeluarkan dr bungkusnya, dan dilipat. Lalu diikat dengan tali, kemudian Ani akan memangku koran di boncengan. Papanya mengayuh sepeda menuju jalan Veteran dimana dia meletakkan meja dagangannya.

Seperti biasa, setelah meletakkan meja dipinggir jalan, dan menyusun koran-koran di atasnya, papa Ani pergi mengantarkan koran ke langganan. Ada juga yang diantar ke kantor, dan rumah makan. Selama papanya pergi Anilah yang menunggu dagangan di tepi jalan. Terkadang ada yang beli, atau cuma melihat-lihat saja.

Sambil menunggu papanya kembali, Ani membaca berita yang menarik perhatiannya. Atau kadang- kadang cuma melihat gambar yang ada di dalam koran tersebut. Terkadang dia menjawab TTS yanga ada di koran tersebut. Tapi yang paling dia suka adalah komik centilan, karena lucu.
Mungkin karena sering membaca itulah, Ani selalu mendapatkan peringkat terbaik di kelasnya.

Pagi ini, Ani kelihatan gelisah. Sepertinya papa lama kembali. Dia pandangi jalanan yang mulai ramai Kendaraan berlalu-lalang. Anak sekolah yang berjalan kakipun sudah semakin ramai lewat di depannya. Ani gelisah takut terlambat berangkat sekolah. Sekolah Ani hanya berjarak 20 m dari tempat dagangan.

Beberapa anak sekolah yang berseragam sama seperti Ani menegur Ani. Ada juga yang cuma memberi senyuman saja. Bahkan ada juga yang mengejek atau mentertawainya. Seperti itulah kelakuan anak-anak. Selalu ceria di berbagai kesempatan.

"Ani, ayo...", teriak seorang teman. "Nanti terlambat. Sebentar lagi bel berbunyi".

"Iya, duluan saja. Aku masih menunggu papaku kembali".

Tak lama, tampak sorang lelaki gagah dan garang menyeberang jalan. Lelaki tersebut adalah pak Ibnu guru matematika sekaligus guru olahraga. Ani berjalan mendekati lelaki tersebut. 

"Assalamualaikum Pak". Sapa Ani sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami Pak Ibnu.

Pak Ibnu tersenyum, dan menjawab salam Ani. "Waalaikum salam. Kamu belum berangkat?"

"Belum Pak, jawab Ani. Sebentar lagi, saya masih menunggu papa saya kembali".

"Oh, ya. Jangan sampai terlambat ya, hari ini kita ulangan". Kata pak Ibnu sambil terus berjalan.

"Baik Pak".

Ani kembali duduk di bangkunya. Dia buka buku catatannya. Sebentar matanya memandang ke jalan. Kakinya bergerak-gerak gelisah. Pinsilnya diketuk-ketukkan ke meja, sesekali mencoret-goret kertas.

"Woi Ani,  ayo... sebentar lagi masuk". teriak temannya Sisi, yang sedang berjalan beramai-ramai dengan anak-anak lainya. 

"Duluanlah, aku sebentar lagi, jawab Ani".

"Oh... ya sudah. Aku duluan ya..." kata Sisi sambil berlalu.

Tak lama lewat Kak Aisah yang baik hati. Dia pun mengajak Ani untuk bersama-sama ke sekolah. Tapi apa mau dikata, Ani tak mungkin meninggalkan dagangan koran sebelum papanya kembali. Bisa- bisa korannya laris tanpa sisa.

Ani menoleh ke arah toko di belakangnya. Belum buka. Dia tak bisa melihat waktu. Namun perasaan khawatir terus menderanya. Apalagi anak sekolah yang lewan di depannya sudah mulai berkurang. Ini menandakan sudah hampir bel masuk. Terlihat juga beberapa anak berseragam sekolah, berlari-lari menyebarang jalan. Semakin gelisahlah Ani.

Tak lama DOdi teman sekelas Ani melintas. Dia berhenti sejenak, lalu mengejek-ngejek Ani. "Ani tak bisa sekolah... Ani tak bisa sekolah.... Jual koran tak habis-habis... Jual koran tak habis-habis. Tak jadi juara, wek." Sambil menjulurkan lidah dan tertawa-tawa,  Dodi berlari meninggalkan Ani yang ingin mengejarnya.

Ani kembali celingukan ke arah ujung jalan. Kenapa papa lama kembali? Tidak seperti biasanya begini, batin Ani.
Perlahan air mata menetes di pipinya. Dia bayangkan akan mendapatkan hukuman dari pak Ibnu karena terlambat. Pak Ibnu sangat tegas dalam menagakkan peraturan. Tidak pandang bulu, walaupun Ani juara kelas, sama saja, tak ada pengecualian. Siapapun yang tidak disiplin, akan mendapat hukuman.

Ani berkemas, dimasukkannya buku dan pensil ke dalam tas, lalu diselempangkan tasnya ke bahu kecilnya. Perlahan dia berjalan ke arah simpang. Kalau berdiri di simpang dia bisa melihat dagangan sekaligus sekolahnya.

Terdengar bel sekolah berbunyi, membuat jantungnya berdebar kencang. Kakinya terasa lemas. Dia memandang ke sekolah. Air matanya semakin deras. Dia lihat teman-temannya berbaris di depan kelas, berdoa, kemudian masuk ke dalam kelas sambi menyalami guru yang berdiri di depan menghadap murid-murid. Ani menggigit bibir. Yah... terlambat.
 
Tiba-tiba terdengar lonceng sepeda papanya. Dia menoleh sambil tersenyum lebar dan buru-buru mengambil tangan papanya dan mencium tangannya, sambil berucap, "Ani pergi ya Pa. Assalamualaikum". Kemudian dia berlari kencang ke sekolah, tanpa menunggu jawaban papanya.

Sampai di depan kelas, masih dalam kondisi ngos-ngosan, Ani mengetuk pintu sambi mengucap salam. "Assalamualaikum Pak". 

Pak Ibnu yang sedang menulis soal di papan tulis,  memandang ke arahnya.  Pandangannya tajam, membuat hati Ani ciut. Tanpa melihat mata pak Ibnu Ani berujar, "maaf Pak, Saya terlambat". Ani pasrah untuk mendapat hukuman.

"Waalaikum salam", jawab pak Ibnu.  "Cepat masuk dan keluarkan kertas ujian. Tapi, selesai ujian kamu tetap mendapat hukuman"

"Baik Pak, terima kasih". Sambil menunduk Ani berjalan ke arah bangkunya. 

Teman-temannya semua memandang ke arah Ani. Tak satupun yang berani komentar.  Karena takut, bila ada yang komentar juga bakal kena hukum. Namun ada  beberapa yang saling sikut sambil menunjuk ke arah Ani.

Ani segera mengeluarkan kertas selembar, dan mulai mengerjakan soal-soal yang ditulis Pak Ibnu di papan tulis. Ruangan pun kembali sunyi. Begitulah suasana kelas bila sedang ujian bersama pak Ibnu. Tidak ada satu orang muridpun yang berani menyontek atau bertanya pada teman.

Untunglah Ani selalu belajar setiap malam. Jadi apahila ujian dia tidak panik. Semua soal bisa djkerjakan Ani dengan baik. Demikian juga dengan pelajaran lainnya. Dia selalu menjadi yang terbaik. Walaupun setiap hari harus ikut menjual koran Ani tak pernah malas untuk belajar dan berlatih.




# rindu#papa#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menciptakan Budaya Positif di Sekolah/Kelas

Tugas 1.4.a.9 Aksi Nyata Modul 1,4 Budaya Positif Aksi Nyata ini merupakan tugas akhir dari Modul 1,4 Budaya Positif. Aksi nyata dilakukan d...