Jumat, 23 September 2022

Menciptakan Budaya Positif di Sekolah/Kelas

Tugas 1.4.a.9 Aksi Nyata Modul 1,4 Budaya Positif
Aksi Nyata ini merupakan tugas akhir dari Modul 1,4 Budaya Positif. Aksi nyata dilakukan di kelas dengan membuat keyakinan kelas, dan mensosialisasikannya dengan rekan-rekan guru.
Berikut aksi nyata saya:








Rabu, 03 Maret 2021

Anak Penjual Koran

# Anak Penjual Koran#

Setiap pagi, di pinggir Jalan Vetran dekat simpang Jalan KHA Dahlan, terlihat pemandangaan seorang gadis kecil duduk di sebuah bangku. Dia sudah dusuk di tempat itu sejak pukul 6 pagi. Di depannya terletak sebuah meja kecil yang di atasnya sudah tersusun rapi koran-koran terbitan lokal.

Namanya Ani. Setiap hari, selesai sholat subuh, Ani bersama dengan papanya naik sepeda berangkat dari rumah menuju kota untuk mengambil koran Singgalang. Koran tersebut dikirim penerbit melalui bus angkutan bukit lawang dan diturunkan di depan sebuah toko buku A. Di sana sudah banyak loper koran yang juga menunggu koran harian lain. Ada harian Waspada dan Analisa.

Koran yang dikirim dibungkus sampul besar. Setelah koran didapat, selanjutnya koran dikeluarkan dr bungkusnya, dan dilipat. Lalu diikat dengan tali, kemudian Ani akan memangku koran di boncengan. Papanya mengayuh sepeda menuju jalan Veteran dimana dia meletakkan meja dagangannya.

Seperti biasa, setelah meletakkan meja dipinggir jalan, dan menyusun koran-koran di atasnya, papa Ani pergi mengantarkan koran ke langganan. Ada juga yang diantar ke kantor, dan rumah makan. Selama papanya pergi Anilah yang menunggu dagangan di tepi jalan. Terkadang ada yang beli, atau cuma melihat-lihat saja.

Sambil menunggu papanya kembali, Ani membaca berita yang menarik perhatiannya. Atau kadang- kadang cuma melihat gambar yang ada di dalam koran tersebut. Terkadang dia menjawab TTS yanga ada di koran tersebut. Tapi yang paling dia suka adalah komik centilan, karena lucu.
Mungkin karena sering membaca itulah, Ani selalu mendapatkan peringkat terbaik di kelasnya.

Pagi ini, Ani kelihatan gelisah. Sepertinya papa lama kembali. Dia pandangi jalanan yang mulai ramai Kendaraan berlalu-lalang. Anak sekolah yang berjalan kakipun sudah semakin ramai lewat di depannya. Ani gelisah takut terlambat berangkat sekolah. Sekolah Ani hanya berjarak 20 m dari tempat dagangan.

Beberapa anak sekolah yang berseragam sama seperti Ani menegur Ani. Ada juga yang cuma memberi senyuman saja. Bahkan ada juga yang mengejek atau mentertawainya. Seperti itulah kelakuan anak-anak. Selalu ceria di berbagai kesempatan.

"Ani, ayo...", teriak seorang teman. "Nanti terlambat. Sebentar lagi bel berbunyi".

"Iya, duluan saja. Aku masih menunggu papaku kembali".

Tak lama, tampak sorang lelaki gagah dan garang menyeberang jalan. Lelaki tersebut adalah pak Ibnu guru matematika sekaligus guru olahraga. Ani berjalan mendekati lelaki tersebut. 

"Assalamualaikum Pak". Sapa Ani sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami Pak Ibnu.

Pak Ibnu tersenyum, dan menjawab salam Ani. "Waalaikum salam. Kamu belum berangkat?"

"Belum Pak, jawab Ani. Sebentar lagi, saya masih menunggu papa saya kembali".

"Oh, ya. Jangan sampai terlambat ya, hari ini kita ulangan". Kata pak Ibnu sambil terus berjalan.

"Baik Pak".

Ani kembali duduk di bangkunya. Dia buka buku catatannya. Sebentar matanya memandang ke jalan. Kakinya bergerak-gerak gelisah. Pinsilnya diketuk-ketukkan ke meja, sesekali mencoret-goret kertas.

"Woi Ani,  ayo... sebentar lagi masuk". teriak temannya Sisi, yang sedang berjalan beramai-ramai dengan anak-anak lainya. 

"Duluanlah, aku sebentar lagi, jawab Ani".

"Oh... ya sudah. Aku duluan ya..." kata Sisi sambil berlalu.

Tak lama lewat Kak Aisah yang baik hati. Dia pun mengajak Ani untuk bersama-sama ke sekolah. Tapi apa mau dikata, Ani tak mungkin meninggalkan dagangan koran sebelum papanya kembali. Bisa- bisa korannya laris tanpa sisa.

Ani menoleh ke arah toko di belakangnya. Belum buka. Dia tak bisa melihat waktu. Namun perasaan khawatir terus menderanya. Apalagi anak sekolah yang lewan di depannya sudah mulai berkurang. Ini menandakan sudah hampir bel masuk. Terlihat juga beberapa anak berseragam sekolah, berlari-lari menyebarang jalan. Semakin gelisahlah Ani.

Tak lama DOdi teman sekelas Ani melintas. Dia berhenti sejenak, lalu mengejek-ngejek Ani. "Ani tak bisa sekolah... Ani tak bisa sekolah.... Jual koran tak habis-habis... Jual koran tak habis-habis. Tak jadi juara, wek." Sambil menjulurkan lidah dan tertawa-tawa,  Dodi berlari meninggalkan Ani yang ingin mengejarnya.

Ani kembali celingukan ke arah ujung jalan. Kenapa papa lama kembali? Tidak seperti biasanya begini, batin Ani.
Perlahan air mata menetes di pipinya. Dia bayangkan akan mendapatkan hukuman dari pak Ibnu karena terlambat. Pak Ibnu sangat tegas dalam menagakkan peraturan. Tidak pandang bulu, walaupun Ani juara kelas, sama saja, tak ada pengecualian. Siapapun yang tidak disiplin, akan mendapat hukuman.

Ani berkemas, dimasukkannya buku dan pensil ke dalam tas, lalu diselempangkan tasnya ke bahu kecilnya. Perlahan dia berjalan ke arah simpang. Kalau berdiri di simpang dia bisa melihat dagangan sekaligus sekolahnya.

Terdengar bel sekolah berbunyi, membuat jantungnya berdebar kencang. Kakinya terasa lemas. Dia memandang ke sekolah. Air matanya semakin deras. Dia lihat teman-temannya berbaris di depan kelas, berdoa, kemudian masuk ke dalam kelas sambi menyalami guru yang berdiri di depan menghadap murid-murid. Ani menggigit bibir. Yah... terlambat.
 
Tiba-tiba terdengar lonceng sepeda papanya. Dia menoleh sambil tersenyum lebar dan buru-buru mengambil tangan papanya dan mencium tangannya, sambil berucap, "Ani pergi ya Pa. Assalamualaikum". Kemudian dia berlari kencang ke sekolah, tanpa menunggu jawaban papanya.

Sampai di depan kelas, masih dalam kondisi ngos-ngosan, Ani mengetuk pintu sambi mengucap salam. "Assalamualaikum Pak". 

Pak Ibnu yang sedang menulis soal di papan tulis,  memandang ke arahnya.  Pandangannya tajam, membuat hati Ani ciut. Tanpa melihat mata pak Ibnu Ani berujar, "maaf Pak, Saya terlambat". Ani pasrah untuk mendapat hukuman.

"Waalaikum salam", jawab pak Ibnu.  "Cepat masuk dan keluarkan kertas ujian. Tapi, selesai ujian kamu tetap mendapat hukuman"

"Baik Pak, terima kasih". Sambil menunduk Ani berjalan ke arah bangkunya. 

Teman-temannya semua memandang ke arah Ani. Tak satupun yang berani komentar.  Karena takut, bila ada yang komentar juga bakal kena hukum. Namun ada  beberapa yang saling sikut sambil menunjuk ke arah Ani.

Ani segera mengeluarkan kertas selembar, dan mulai mengerjakan soal-soal yang ditulis Pak Ibnu di papan tulis. Ruangan pun kembali sunyi. Begitulah suasana kelas bila sedang ujian bersama pak Ibnu. Tidak ada satu orang muridpun yang berani menyontek atau bertanya pada teman.

Untunglah Ani selalu belajar setiap malam. Jadi apahila ujian dia tidak panik. Semua soal bisa djkerjakan Ani dengan baik. Demikian juga dengan pelajaran lainnya. Dia selalu menjadi yang terbaik. Walaupun setiap hari harus ikut menjual koran Ani tak pernah malas untuk belajar dan berlatih.




# rindu#papa#

Jumat, 19 Februari 2021

Puisi Sonian

Pertama sekali tahu istilah ini di salah satu grup GGDN. Ceo mengajukan challenge jntuk membuat buku antologi puisi. Kemudian ada usulan dari anggota grup membuat puisi sonian

Wah, puisi apa ini? Seingat saya, dulu ketika SMA belajar tentang puisi tak ada istilah puisi sonian. Ingin bertanya di grup tetapi serasa malu (habis saya itu kan pemalu... hehehe). Saya ikuti pembahasan di grup beberapa saat, namun tak ada yang menjelaskan.

Rasa penasaran membuat jemari saya bereaksi, otak pun memerintahkan untuk bertanya pada mbah google. "Mbah, puisi sonian itu apa sih?". Cling langsung bermunculan penuntun untuk mendapatkan penjelasan.

Puisi sonian merupakan puisi baru yang diperkenalkan oleh Sonia Farid Maulana. Mungkin itulah sebabnya, puisi ini disebuat Sonian. Saya mengartikannya sebagai puisi mengikuti aliran pak Soni.

Puisi sonian mempunyai ciri yang khas, yaitu terdiri atas 4 baris dengan pola 6-5-4-3 suku kata perlarik. Bila dicermati puisi ini memfokuskan makna dari judul puisi, sehingga menjadi jelas.

Setelah mempelajari puisi sonian, saya mulai mencoba membuatnya. Awalnya terasa sulit. Ini malah menantang bagi saya untuk bisa membuatnya. Saya coba berkali-kali. Dan ternyata, ahayyy... saya menjadi ketagihan untuk membuatnya. Seperti bermain game kata-kata.

Tidak percaya? Ayo, dicoba.... saya yakin kamu akan suka. Dan terus ingin membuat. Dalam diam, mulai menulis sonian di kepala. Sedang nonton tv pun ergoda untuk membuatnya. Melihat, mendengar, memikir pun semua ingin dijadikan puisi sonian...
Baik biar tidak bingung, saya beri contohnya:

RAMBUT
Mahkota wanita
Panjang terurai
Memberikan
Pesona

IKHLAS
Selalu memberi
Tiada harap
Tuk dibalas
Slamanya

DO'A
Ku duduk bersimpuh
Adukan diri
Penuh dosa
PadaMu

MENGAJI
Membaca Al quran
Tuntunan hidup
Arah jalan
Yang benar

170221

Selasa, 16 Februari 2021

Kepergian

Kepergian 

Ada yang lain di hati
Melepasmu pergi tanpa diriku
Terasa berat
Walau kusadari
Ini bukanlah yang pertama 

Kepergian kali ini terasa lain
Dimana kita harus saling curiga
Curiga pada orang lain
Curiga pada diri sendiri
Curiga pada sekeliling 

Pandemi belum berakhir
Corona masih mengintai
Walau vaksin telah ada
Waspada tetap dijaga
Agar diri selamat sentosa 

Namun kulepas jua dengan senyum
Demi tak membuatmu khawatir
Melangkah dengan pasti
Menuntun nenek
Menemaninya pulang kampung 

Anakku, jaga dirimu baik-baik
Lindungi nenek yang sudah renta
Besar harapan bunda padamu
Mengganti peran bunda
Mendampingi nenek pulang kampung 

Do'a bunda untuk keselamatan
Selama di perjalanan
Sampai tiba di tujuan
Dalam lindungan sang Maha Penjaga
Amiin ya Rabbi.. 

Medan, 160221

Minggu, 31 Januari 2021

🍁🌻🌹Bunga🌹🌻🍁

Sungguh indah bentukmu
Kesegaranmu hidupkan bumi
Warnamu mencerahkan dunia
Semerbak aroma bangkitkan hasrat
Berjuang meraih asa 

Anggunmu memikat hati
Setiap pandangan tertuju padamu
Rasa tak kuat menahan diri
Untuk segera memilikimu
Menghias taman hatiku 

Kan kujaga sebaik mampuku
Kupajang di teras istanaku
Tak lupa mengunci pagar
Karena banyak yang mengincarmu
Bertahanlah demi aku

Inspirasi mau tidur
Baca status teman yg kehilangan bunga
Medan, 310121

Minggu, 17 Januari 2021

Duka Negriku

Berita duka di awal tahun

Menghias di layar kaca

Menjadi topik hangat diperbincangkan

Pagi, siang, petang, dan malam hari


Pendemi tak kunjung berakhir

Ribuan orang berjatuhan setiap hari

Tetpapar virus yang tak kelihatan

Tetapi nyata mengambil korban 


Banjir bandang melanda penjuru negeri

Menghanyutkan harta benda dan nyawa

Duka nestapa kehilangan keluarga

Uluran tangan dermawan diharapkan

Sebagai penghibur hati yang lara


Bencana alam datang silih berganti

Memberi warna pemberitaan televisi

Longsor melanda negeri bestari

Menimbun sawah, ladang, dan rumah huni

Pilu hati laksana diiris belati


Belum hilang lara...

Berita duka datang lagi

Jatuhnya pesawat Sriwigaya air

62 nyawa hilang 

Hanya serpihan yang berserak

Sebagai bukti keberadaan

Menambah duka mendalam Indonesia


Serasa tak ingin berhenti

Bencana alam lebih dahsat datang lagi

Gempa mengguncang bumi sulbar

Meluluhlantakkan bangunan

Mayat bergelimpang tertimbun material


Di tempat lain

Badai menghantam bumi

Membabat yang menghambat

Sebagai peringatan tetap siaga


Duhai Yang Maha Kuasa

Pemilik alam semesta

Ibalah kepada kami

Kasihanila kami


Kami sadar

Semua berawal dari kami

Ketamakan, keserakahan, kerakusan

Membabat habis pemberianMu

Tak menjaga karuniamu


Ampuni kami

Beri kesempatan kami

Berbenah diri dan hati


Medan, 18012021











Jumat, 01 Januari 2021

puisi Malam Pergantian

Malam Pergantian
By: Nurhasni

Gegap gempita suara mercon
Kembang api semarakkan malam
Terlupa akan sesuatu
Kisah pilu saudara yang tlah pergi
Pergi tuk slamanya 

Ramainya suasana malam
Walau masa pandemi
Sambut tahun baru
Seakan tiada yang terjadi
Atau hanya sebuah mimpi 

Euforia satu malam
Seakan menjadi penting
Daripada menjaga diri
Dari incaran virus corona 

Himbauan tidak berpesta
Larangan berkerumun
Seakan sebuah slogan
Biasa saja dan terlupakan

Medan, 311220

Menciptakan Budaya Positif di Sekolah/Kelas

Tugas 1.4.a.9 Aksi Nyata Modul 1,4 Budaya Positif Aksi Nyata ini merupakan tugas akhir dari Modul 1,4 Budaya Positif. Aksi nyata dilakukan d...